BOS Buku Terpisah dari BOS
Herkulanus Agus
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) buku tidak mengurangi anggaran BOS yang telah diluncurkan pemerintah lebih dahulu. Karena pembiayaannya antara satu dengan yang lain dilakukan secara terpisah.
“Bos buku ini diberikan kepada sekolah-sekolah di wilayah Kalimantan Barat,” kata anggota Komisi D DPRD Kalimantan Barat, Katharina Lies.
Namun Lies, mengingatkan agar kepala sekolah bisa berlaku secara transparan dalam mengelolanya. Sehingga buku yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan bisa sampai ke tangan yang berhak.
“Kita berharap untuk semua sekolah yang ada di Kalimantan Barat ada transparansi,” terangnya.
Dilansir Sekretaris Jenderal Depdiknas, Dodi Nandika, sebagaimana dilansir harian Pikiran Rakyat, (13/4/2006) pernah mengungkapkan bahwa Depdiknas akan meluncurkan sembilan program utama tahun 2006. Salah satunya adalah bantuan operasional sekolah (bos untuk buku teks pelajaran).
Menurut Dodi, BOS Buku diberikan kepada siswa-siswa SD dan SMP di daerah-daerah terpencil dan tertinggal yang ada di 9-12 provinsi di Indonesia.
“Depdiknas bersama DPR telah sepakat mengalokasikan dana Rp 800 miliar dari APBN untuk BOS buku tahun 2006. BOS buku teks ini diberikan kepada siswa-siswa SD dan SMP yang ada di daerah-daerah terpencil dan tertinggal dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun,” ujarnya.
Pola penyaluran bos buku ini sama dengan pola penyaluran dana bantuan operasional sekolah bos buku, yaitu menggunakan pola block grant. Bos buku katanya, diberikan untuk BOS buku teks pelajaran saja, tidak termasuk buku pengayaan.
“Pihak sekolah dan komite sekolah silakan memilih buku teks pelajaran yang akan digunakan di sekolah. buku teks pelajaran yang dipilih adalah buku yang sudah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),” katanya.Pernyataan Dodi bukan cuma isapan jempol, buktinya sudah banyak sekolah (SD/SMP) yang telah menerima kucuran dana itu. Besar kecilnya dana BOS buku ditentukan oleh jumlah siswa dari sekolah yang bersangkutan. Setiap siswa mendapatkan BOS buku sebesar Rp 20.000 per buku
Kamis, 11 Oktober 2007
Dana Modernisasi Kampus Untan Diusahakan
Herkulanus Agus
“Saya tahu memodernisasi Kampus Untan tidak gampang, karena perlu dana yang banyak, tetapi akan di usahakan melalui Islamic Development Bank (IDB) dan BAPENAS,” terang ktor Untan Pontianak Dr। Chairil Effendi, MS, di ruang kerjanya.
Modernisasi Kampus merupakan Rencana Strategis (Renstra) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak yang sudah digagas. Penggodokan program tersebut, kini telah berjalan kurang lebih satu bulan dan hasilnya akan diketahui dua bulan nanti.
Menurut Chairil, modernisasi dimaksudkan untuk melakukan efisiensi di segala bidang, menyangkut ruang kuliah, energi, dana, penggunaan fasilitas, laboratorium komputer, laboratorium kimia dan sarana prasarana lainnya. Di samping itu dengan letak kampus yang terpencar dari jalan Ahmad Yani hingga Imam Bonjol, biaya keamanan juga cukup tinggi.
“Sehingga program modernisasi Kampus akan tetap dilaksanakan dan kini masih dalam pengkajian,” terangnya.
Dengan modernisasi kampus akan dibuat lebih menarik dengan pola vertikal, antara 3 hingga 4 lantai. Karenanya kemungkinan akan dilakukan regrouping antar kampus.
Langkah tersebut juga dilakukan untuk mengatasi permasalahan Kampus yang sering mengeluhkan kurangnya ruangan belajar.
“Dengan begitu kita berharap tidak ada lagi ruangan yang tidak dimanfaatkan,” terangnya.
Dijelaskan Chairil untuk regrouping itu akan menggunakan lokasi di Kampus yang ada sekarang terutama Kampus yang di jalan Ahmad Yani. Sedangkan ruang kuliah yang terdapat di jalan Imam Bonjol, nantinya dapat sewakan ke pihak luar sebagai generator unit. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan lainnya yang ada di Untan.
Renstra Untan untuk menjawab kebutuhan jangka panjang yang sudah kian mendesak. Tidak hanya kebutuhan sesaat, namun mencapai 20 hingga 50 tahun ke depan.
“Saat ini kita juga sudah mempersiapkan tata Ruang Untan,” ujarnya. Sehingga ke depan semua pembangunan di Untan mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Jadi berjalan tidak mengambang.
Untuk mampu bersaing di abad global sudah saatnya Untan melakukan pembenahan di segala bidang. Apalagi Untan merupakan satu-satunya perguruan tinggi Negeri. Cukup banyak Mahasiswa yang berasal dari daerah untuk mengasah otak, dengan harapan kelak bisa menjadi orang yang berguna.
Terhadap tantangan tersebut, Rektor Untan juga akan mempersiapkan Adhok tim reformasi perpustakaan Untan, tim perencanaan Untan, tim sistem informasi dan pendokumentasian Untan. “Mudah-mudahan program ini bisa berjalan semuanya,” terang Chairil
Herkulanus Agus
“Saya tahu memodernisasi Kampus Untan tidak gampang, karena perlu dana yang banyak, tetapi akan di usahakan melalui Islamic Development Bank (IDB) dan BAPENAS,” terang ktor Untan Pontianak Dr। Chairil Effendi, MS, di ruang kerjanya.
Modernisasi Kampus merupakan Rencana Strategis (Renstra) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak yang sudah digagas. Penggodokan program tersebut, kini telah berjalan kurang lebih satu bulan dan hasilnya akan diketahui dua bulan nanti.
Menurut Chairil, modernisasi dimaksudkan untuk melakukan efisiensi di segala bidang, menyangkut ruang kuliah, energi, dana, penggunaan fasilitas, laboratorium komputer, laboratorium kimia dan sarana prasarana lainnya. Di samping itu dengan letak kampus yang terpencar dari jalan Ahmad Yani hingga Imam Bonjol, biaya keamanan juga cukup tinggi.
“Sehingga program modernisasi Kampus akan tetap dilaksanakan dan kini masih dalam pengkajian,” terangnya.
Dengan modernisasi kampus akan dibuat lebih menarik dengan pola vertikal, antara 3 hingga 4 lantai. Karenanya kemungkinan akan dilakukan regrouping antar kampus.
Langkah tersebut juga dilakukan untuk mengatasi permasalahan Kampus yang sering mengeluhkan kurangnya ruangan belajar.
“Dengan begitu kita berharap tidak ada lagi ruangan yang tidak dimanfaatkan,” terangnya.
Dijelaskan Chairil untuk regrouping itu akan menggunakan lokasi di Kampus yang ada sekarang terutama Kampus yang di jalan Ahmad Yani. Sedangkan ruang kuliah yang terdapat di jalan Imam Bonjol, nantinya dapat sewakan ke pihak luar sebagai generator unit. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan lainnya yang ada di Untan.
Renstra Untan untuk menjawab kebutuhan jangka panjang yang sudah kian mendesak. Tidak hanya kebutuhan sesaat, namun mencapai 20 hingga 50 tahun ke depan.
“Saat ini kita juga sudah mempersiapkan tata Ruang Untan,” ujarnya. Sehingga ke depan semua pembangunan di Untan mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Jadi berjalan tidak mengambang.
Untuk mampu bersaing di abad global sudah saatnya Untan melakukan pembenahan di segala bidang. Apalagi Untan merupakan satu-satunya perguruan tinggi Negeri. Cukup banyak Mahasiswa yang berasal dari daerah untuk mengasah otak, dengan harapan kelak bisa menjadi orang yang berguna.
Terhadap tantangan tersebut, Rektor Untan juga akan mempersiapkan Adhok tim reformasi perpustakaan Untan, tim perencanaan Untan, tim sistem informasi dan pendokumentasian Untan. “Mudah-mudahan program ini bisa berjalan semuanya,” terang Chairil
Guru Harus Bernafsu Menulis
Herkulanus Agus
Persoalan menulis ilmiah menjadi kendala bagi guru-guru PNS untuk kenaikan pangkat dari golongan IV A ke –IV B। Sehingga salah satu cara yang dijalankan guru harus mampu membekali diri dasar penulisan itu.
“Di samping itu juga menulis ilmiah juga merupakan salah satu prasyarat untuk sertifikasi guru,” ungkap Ketua STKIP PGRI Pontianak, DR. Samion AR, M.Pd, beberapa waktu lalu.
Samion demikian panggilan akrabnya mengharapkan dengan adanya pelatihan, apalagi pelatihan yang berskala Nasional dapat membuat para peserta “bernafsu menulis”.
Menurut Samion, sebenarnya di kalangan guru yang umumnya anggota PGRI dan alumnus STKIP PGRI Pontianak. Kemampuan menulis sudah ada. “Hanya saja saja belum ada acuan dan standar penilaian baku,” terangnya.
Untuk itu ia berharap dilakukan pembaharuan atau perubahan di dalam melakukan penilaian. Di samping itu ia juga mengingatkan perlu adanya metodologi secara khusus di dalam penulisan ilmiah.
“Mudah-mudahan nanti dapat disampaikan para pemateri,” ungkapnya.
Di dalam menulis pihak STKIP juga memberikan ransangan secara khusus kepada siswa-siswinya melalui berbagai kegiatan di Kampus. Misalnya dengan kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh masing-masing Program Studi (Prodi) di Kampus STKIP. Dengan adanya kegiatan itu diharapkan mahasiswa dapat berprestasi.
“Mereka yang berprestasi mendapatkan perhatian dari lembaga,” papar Samion.
Kemungkinannya bisa direkrut menjadi pegawai di lingkungan STKIP PGRI.
“Memang untuk dosen negeri seharusnya S-2,” ungkapnya.
Dalam menulis ditambahkan Samion, perlu sosialisasi yang lebih dalam dan melibatkan Perguruan Tinggi yang ada di Kalimantan Barat.
Herkulanus Agus
Persoalan menulis ilmiah menjadi kendala bagi guru-guru PNS untuk kenaikan pangkat dari golongan IV A ke –IV B। Sehingga salah satu cara yang dijalankan guru harus mampu membekali diri dasar penulisan itu.
“Di samping itu juga menulis ilmiah juga merupakan salah satu prasyarat untuk sertifikasi guru,” ungkap Ketua STKIP PGRI Pontianak, DR. Samion AR, M.Pd, beberapa waktu lalu.
Samion demikian panggilan akrabnya mengharapkan dengan adanya pelatihan, apalagi pelatihan yang berskala Nasional dapat membuat para peserta “bernafsu menulis”.
Menurut Samion, sebenarnya di kalangan guru yang umumnya anggota PGRI dan alumnus STKIP PGRI Pontianak. Kemampuan menulis sudah ada. “Hanya saja saja belum ada acuan dan standar penilaian baku,” terangnya.
Untuk itu ia berharap dilakukan pembaharuan atau perubahan di dalam melakukan penilaian. Di samping itu ia juga mengingatkan perlu adanya metodologi secara khusus di dalam penulisan ilmiah.
“Mudah-mudahan nanti dapat disampaikan para pemateri,” ungkapnya.
Di dalam menulis pihak STKIP juga memberikan ransangan secara khusus kepada siswa-siswinya melalui berbagai kegiatan di Kampus. Misalnya dengan kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh masing-masing Program Studi (Prodi) di Kampus STKIP. Dengan adanya kegiatan itu diharapkan mahasiswa dapat berprestasi.
“Mereka yang berprestasi mendapatkan perhatian dari lembaga,” papar Samion.
Kemungkinannya bisa direkrut menjadi pegawai di lingkungan STKIP PGRI.
“Memang untuk dosen negeri seharusnya S-2,” ungkapnya.
Dalam menulis ditambahkan Samion, perlu sosialisasi yang lebih dalam dan melibatkan Perguruan Tinggi yang ada di Kalimantan Barat.
Buku Jejak Emas Pemuda Kalbar Siap Launching
ब्य Herkulanus Agus
Sebagai ungkapan syukur kepada Borneo Tribune yang telah sukses sebagai media partner persiapan penerbitan buku Jejak Emas Pemuda Kalimantan Barat, koordinator kepenulisan Buku Jejak emas pemuda Kalbar Yaser Syaifudin, ST menyerahkan 5 persen dari keseluruhan dana sponsorship.
Dana tersebut diserahkan Yaser secara simbolik kepada Tanto Yakobus, Redaktur dan pengasuh halaman filantropi di Borneo Tribune, Rabu (10/10) kemarin. Dana tersebut akan disalurkan ke masyarakat yang sangat membutuhkan melalui program dana amal filantropi ke Borneo Tribune. Dana untuk penyelesaian buku tersebut sebesar Rp 6 juta dari PTPN XIII dan PT PELINDO.
“Kita merasa berterima kasih kepada Borneo Tribune, karena mempunyai semangat yang sama. Apalagi Borneo Tribune juga dikelola orang-orang muda,” ungkap Yaser sapaan akrabnya.
Menurut Yaser, hampir semua prestasi anak Kalbar dapat tercium dari Borneo Tribune. Termasuk prestasi siswa yang terpendam. Contohnya Bryan Jevoncia.
Buku jejak emas pemuda Kalimantan Barat yang akan diluncurkan 29 Oktober mendatang dan bercerita tentang kunci sukses, profil pemuda Kalbar yang dinilai berhasil dari sisi akademisi, atlet, seni, entrepreneur dan aktivis.
Rencananya buku itu akan dicetak selepas lebaran dengan jumlah 3 ribu buah. Buku tersebut akan diserahkan secara gratis kepada warga Kalbar.
Misalnya tentang entrepreneur Suhardiman pemilik waruk Dangau, Kusmindari pengelola Sanggar Andari, Hermayani Putra Aktifis WWF.
Tujuan dari jejak emas ada empat kata kunci motivasi, inspirasi, dokumentasi jejak pemuda Kalbar dan apresiasi atau bentuk penghargaan terhadap kiprah pemuda Kalimantan Barat.
Ditambahkannya persiapan buku jejak emas kurang lebih selama lima bulan yaitu dari bulan Mei-Oktober.
Penerbitan buku ini juga terlaksana atas kerjasama KNPI Kalbar Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES).
Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES), Endih Supandih mengatakan, pembuatan buku ini juga bertujuan membagi aspirasi dan motivasi kepada orangtua dan pemuda lainnya untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Memberi penghargaan kecil kepada pemuda yang telah mengharumkan dan mengangkat nama Kalbar. Menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat.
“Kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat,” kata Endih.
Pembuatan buku hasil kerja sama antara LP2ES dan CV Pasific ini juga mendapat dukungan dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalbar, Aspar.
Pemuda dengan energi yang besar dan mobilitas yang tidak terbatas merupakan salah satu kunci penggerak dan pemberdayaan masyarakat. “Dengan jumlah pemuda lebih dari setengah juta jiwa. Peran serta pemuda mat dibutuhkan sebagai motor penggerak dan agen perubahan yang menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kalimantan Barat,” lanjut dia.
ब्य Herkulanus Agus
Sebagai ungkapan syukur kepada Borneo Tribune yang telah sukses sebagai media partner persiapan penerbitan buku Jejak Emas Pemuda Kalimantan Barat, koordinator kepenulisan Buku Jejak emas pemuda Kalbar Yaser Syaifudin, ST menyerahkan 5 persen dari keseluruhan dana sponsorship.
Dana tersebut diserahkan Yaser secara simbolik kepada Tanto Yakobus, Redaktur dan pengasuh halaman filantropi di Borneo Tribune, Rabu (10/10) kemarin. Dana tersebut akan disalurkan ke masyarakat yang sangat membutuhkan melalui program dana amal filantropi ke Borneo Tribune. Dana untuk penyelesaian buku tersebut sebesar Rp 6 juta dari PTPN XIII dan PT PELINDO.
“Kita merasa berterima kasih kepada Borneo Tribune, karena mempunyai semangat yang sama. Apalagi Borneo Tribune juga dikelola orang-orang muda,” ungkap Yaser sapaan akrabnya.
Menurut Yaser, hampir semua prestasi anak Kalbar dapat tercium dari Borneo Tribune. Termasuk prestasi siswa yang terpendam. Contohnya Bryan Jevoncia.
Buku jejak emas pemuda Kalimantan Barat yang akan diluncurkan 29 Oktober mendatang dan bercerita tentang kunci sukses, profil pemuda Kalbar yang dinilai berhasil dari sisi akademisi, atlet, seni, entrepreneur dan aktivis.
Rencananya buku itu akan dicetak selepas lebaran dengan jumlah 3 ribu buah. Buku tersebut akan diserahkan secara gratis kepada warga Kalbar.
Misalnya tentang entrepreneur Suhardiman pemilik waruk Dangau, Kusmindari pengelola Sanggar Andari, Hermayani Putra Aktifis WWF.
Tujuan dari jejak emas ada empat kata kunci motivasi, inspirasi, dokumentasi jejak pemuda Kalbar dan apresiasi atau bentuk penghargaan terhadap kiprah pemuda Kalimantan Barat.
Ditambahkannya persiapan buku jejak emas kurang lebih selama lima bulan yaitu dari bulan Mei-Oktober.
Penerbitan buku ini juga terlaksana atas kerjasama KNPI Kalbar Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES).
Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Studi (LP2ES), Endih Supandih mengatakan, pembuatan buku ini juga bertujuan membagi aspirasi dan motivasi kepada orangtua dan pemuda lainnya untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Memberi penghargaan kecil kepada pemuda yang telah mengharumkan dan mengangkat nama Kalbar. Menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat.
“Kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan sinergisitas pemuda guna melahirkan komunitas yang menjadi solusi bagi Kalimantan Barat,” kata Endih.
Pembuatan buku hasil kerja sama antara LP2ES dan CV Pasific ini juga mendapat dukungan dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalbar, Aspar.
Pemuda dengan energi yang besar dan mobilitas yang tidak terbatas merupakan salah satu kunci penggerak dan pemberdayaan masyarakat. “Dengan jumlah pemuda lebih dari setengah juta jiwa. Peran serta pemuda mat dibutuhkan sebagai motor penggerak dan agen perubahan yang menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kalimantan Barat,” lanjut dia.
Jumat, 28 September 2007
हेर्कुलानुस अगुस
Briyan Anak Brilian yang Fenomenal
Herkulanus Agus
Kebahagiaan sedang menerpa keluarga besar SD Suster dan sanggar kreatif Khatulistiwa Children Fun Art Khatulistiwa. Anak asuhnya Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD mengukir sejarah fenomenal internasional.
“Keberhasilan anak-anak KHACHIFA tidak diperoleh dengan cepat dan mudah, mereka sudah cukup lama berlatih dan bekerja keras untuk menghasilkan gambar yang bagus,” ungkap tim kreatif Khatulistiwa Children Fun Art (KHACHIFA) Ary Pudyanti yang didampingi Manejernya Eva Dolorosa, Sabtu (22/9) kemarin.
Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD Swasta Suster Pontianak adalah contoh siswa yang berhasil sejagad. Ia yang brilian mendapat juara 1 lomba desain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tema "We Can End Poverty" untuk peringatan dekade pertama hari internasional "Education for Poverty". Prestasinya membuat orang terpana. Karena keberhasilannya di dalam menyisihkan ribuan peserta di tingkat "International Children Art Competition" usia 6-15 tahun dari seluruh dunia.
“Briyan adalah salah satu binaan yang mendapat predikat terbaik dunia,” terang Ari.
Bagaimana trik KHACHIFA membuat siswa-siswinya berhasil? Menurut Ari, pola pembinaan yang dilakukan dalam lembaganya menggunakan pola diskusi. Siswa dilatih untuk mendengarkan dan mengungkapkan kelebihan yang mereka pikirkan. Pola ini sebenarnya sangat sederhana. Hampir sama dengan pembinaan orang dewasa. Hanya saja di Kalbar pelaksanaannya masih terbatas. Dengan pola keterbukaan ini mengalir diskusi yang dibicarakan secara bersama-sama. Misalnya desain Bryan yang mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas ukuran A4. Dalam desain tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka.
Pola binaan ini juga diberikan kepada siswa-siswi lainnya yang berjumlah 30 orang.
“Pola seperti ini sebenarnya yang ingin kita terapkan,” terang Ari.
KHACHIFA merupakan sebuah kelompok belajar yang diasuh Ibu Ary Widhiasmoro. Sebuah kelompk belajar di mana anak-anak belajar dalam suasana kekeluargaan yang menyenangkan.
Karena prestasi tersebut Bryan diundang PBB ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat bertepatan saat peringatan hari internasional "Education for Poverty" pada 17 Oktober mendatang.
Namun hingga kini pihak KHACIFA belum mendapat kepastian dari Pemerintah. Karena di dalam MoU, keberangkatan pemenang sepenuhnya ditanggung negara. “Kita masih menunggu kepastiannya,” papar mereka.
Di samping Briyan terdapat puluhan anak binaan KHACIFA yang berhasil. Yaitu dalam Toyota Dream Car Art Contest di Jepang dengan the Third Winner. Mereka adalah Aliyarosa Taqwaaariva, SD Al Azhar kelas 4. Risang Dewandaru Samudro SD Muhammadiyah 2 kelas 4. Iona Aveline Joy SD Karya Yosef kelas 3. Alfredo SD Karya Yosef kelas 3.
International Childrens Painting on the environment-UNEP, Tromso, Norway, Juara 4 tingkat dunia Wellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Special Winner Save the sea word Bellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Finalis se-Asia Fasifik Aulia Syaffitri dari SMPN 3 Pontianak kelas 8. Alyyarosa Taqwaariva dari SD Al Azhar kelas 4. Wikan Widhiary Bagaskoro siswa SMPN 10 kelas 7. Shirleen Winona siswa SMA Santo Petrus Pontianak kelas 10. Aileen Aurelia siswa SD Karya Yosef kelas 3. Bryan Jevoncia siswa SD Suster kelas 2.
An art competition for children to design a un stamp on the thema “we can and poverty” Now York. Untuk winning satam design atas nama Bryan Jevoncia. Merit Certificates winners Alyrosa Taqwaariva, Stefanny Dian Sari, Wellinda Tjan, Rida Asananda. Untuk certtificates of recognition diraih Novella Permata Sari dan Risang Dewandaru Samudro. Selanjutnya International Atomic Energy Agency) Children’s Painting Compettition, di Viena Austria Alyarosa Taqwaariva siswa SD Al-Azhar kelas 4 keluar sebagai top word 12 finalist. □
Herkulanus Agus
Kebahagiaan sedang menerpa keluarga besar SD Suster dan sanggar kreatif Khatulistiwa Children Fun Art Khatulistiwa. Anak asuhnya Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD mengukir sejarah fenomenal internasional.
“Keberhasilan anak-anak KHACHIFA tidak diperoleh dengan cepat dan mudah, mereka sudah cukup lama berlatih dan bekerja keras untuk menghasilkan gambar yang bagus,” ungkap tim kreatif Khatulistiwa Children Fun Art (KHACHIFA) Ary Pudyanti yang didampingi Manejernya Eva Dolorosa, Sabtu (22/9) kemarin.
Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD Swasta Suster Pontianak adalah contoh siswa yang berhasil sejagad. Ia yang brilian mendapat juara 1 lomba desain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tema "We Can End Poverty" untuk peringatan dekade pertama hari internasional "Education for Poverty". Prestasinya membuat orang terpana. Karena keberhasilannya di dalam menyisihkan ribuan peserta di tingkat "International Children Art Competition" usia 6-15 tahun dari seluruh dunia.
“Briyan adalah salah satu binaan yang mendapat predikat terbaik dunia,” terang Ari.
Bagaimana trik KHACHIFA membuat siswa-siswinya berhasil? Menurut Ari, pola pembinaan yang dilakukan dalam lembaganya menggunakan pola diskusi. Siswa dilatih untuk mendengarkan dan mengungkapkan kelebihan yang mereka pikirkan. Pola ini sebenarnya sangat sederhana. Hampir sama dengan pembinaan orang dewasa. Hanya saja di Kalbar pelaksanaannya masih terbatas. Dengan pola keterbukaan ini mengalir diskusi yang dibicarakan secara bersama-sama. Misalnya desain Bryan yang mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas ukuran A4. Dalam desain tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka.
Pola binaan ini juga diberikan kepada siswa-siswi lainnya yang berjumlah 30 orang.
“Pola seperti ini sebenarnya yang ingin kita terapkan,” terang Ari.
KHACHIFA merupakan sebuah kelompok belajar yang diasuh Ibu Ary Widhiasmoro. Sebuah kelompk belajar di mana anak-anak belajar dalam suasana kekeluargaan yang menyenangkan.
Karena prestasi tersebut Bryan diundang PBB ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat bertepatan saat peringatan hari internasional "Education for Poverty" pada 17 Oktober mendatang.
Namun hingga kini pihak KHACIFA belum mendapat kepastian dari Pemerintah. Karena di dalam MoU, keberangkatan pemenang sepenuhnya ditanggung negara. “Kita masih menunggu kepastiannya,” papar mereka.
Di samping Briyan terdapat puluhan anak binaan KHACIFA yang berhasil. Yaitu dalam Toyota Dream Car Art Contest di Jepang dengan the Third Winner. Mereka adalah Aliyarosa Taqwaaariva, SD Al Azhar kelas 4. Risang Dewandaru Samudro SD Muhammadiyah 2 kelas 4. Iona Aveline Joy SD Karya Yosef kelas 3. Alfredo SD Karya Yosef kelas 3.
International Childrens Painting on the environment-UNEP, Tromso, Norway, Juara 4 tingkat dunia Wellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Special Winner Save the sea word Bellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Finalis se-Asia Fasifik Aulia Syaffitri dari SMPN 3 Pontianak kelas 8. Alyyarosa Taqwaariva dari SD Al Azhar kelas 4. Wikan Widhiary Bagaskoro siswa SMPN 10 kelas 7. Shirleen Winona siswa SMA Santo Petrus Pontianak kelas 10. Aileen Aurelia siswa SD Karya Yosef kelas 3. Bryan Jevoncia siswa SD Suster kelas 2.
An art competition for children to design a un stamp on the thema “we can and poverty” Now York. Untuk winning satam design atas nama Bryan Jevoncia. Merit Certificates winners Alyrosa Taqwaariva, Stefanny Dian Sari, Wellinda Tjan, Rida Asananda. Untuk certtificates of recognition diraih Novella Permata Sari dan Risang Dewandaru Samudro. Selanjutnya International Atomic Energy Agency) Children’s Painting Compettition, di Viena Austria Alyarosa Taqwaariva siswa SD Al-Azhar kelas 4 keluar sebagai top word 12 finalist. □
पेंदिदिकन
“Gejala Malas membaca”
Herkulanus Agus
Menulis dan membaca hampir tidak dapat dipisahkan, ada hubungan pertautan yang penting di antara keduanya. Untuk bisa menulis buku orang harus rajin membaca, terutama buku-buku referensi.
Sekarang ini banyak kalangan yang cemas dengan gejala-gejala “malas membaca”. Padahal lewat membaca, buku ilmu pengetahuan, koran, majalah, pengetahuan bisa bertambah. Wawasan menjadi luas. Untuk mengetahui perbedaan antar negara tidak mesti keliling dunia. Asal rajin membaca, di buku sudah ada semuanya.
“Guru pandai sehari lebih dulu,” ungkap Gulwadi Ilis guru SMPN 4 Sungai Ambawang.
Karena pengetahuan dapat diperoleh dari membaca buku, baik referensi maupun non referensi.
Menurutnya jika ingin tahu tentang semua ilmu harus belajar, terlebih dengan rajin membaca.
Tantowi Yahya dalam Talk Show pengembangan minat baca Nasional di Pontianak Convention Center (PCC), Minggu (13/5) lalu memberikan apresiasi tentang membaca.
Menurutnya orang sukses berkat kebiasaan membaca. Bahkan di Eropa atau Amerika begitu terkenal pendapat, “Many a great man start a newspaper boy.” (Banyak orang-orang besar yang bermula dari dagang koran).
Tantowi yang terkenal sebagai pemandu kuis Who Wants To Be Millionaire. Berpendapat, hanya dua orang yang mampu menembus bonus Rp 500 juta.
“Satu seorang pengasuh pondok pesantren dan satu orang lagi seorang loper koran,” terangnya.
Dijelaskan orang yang memiliki gelar dan titel tinggi justru ‘memble’ ketika berlaga di kuis yang mengandalkan pengetahuan.
Kepala Sekolah SMA Santo Paulus Yusepha, dalam ultah sekolah, mengkritisi situasi dan kondisi Perpustakaan sekolah yang jarang dikunjungi siswa. Perpustakaan itu bisa menampung 70 pembaca. Namun pengunjungnya sangat kurang.
“Seandainya pun ada bisa dihitung dengan jari,” ungkap Yusepha dengan jujur.
Agar siswa bisa bersemangat datang ke SMA Santo Paulus Pontianak. Pihak sekolah juga sudah mengadakan hot spot internet yang bisa di akses di areal perpustakaan.
“Tetapi baru beberapa siswa saja yang menggunakannya,” tambah Yusepha.
Menurut Bruder Gerardus, MTB, persoalan yang sama hampir sama dialami sekolah-sekolah.
“Sekarang kita mempunyai tanggung jawab untuk membangkitkan semuanya,” ungkapnya.
Herkulanus Agus
Menulis dan membaca hampir tidak dapat dipisahkan, ada hubungan pertautan yang penting di antara keduanya. Untuk bisa menulis buku orang harus rajin membaca, terutama buku-buku referensi.
Sekarang ini banyak kalangan yang cemas dengan gejala-gejala “malas membaca”. Padahal lewat membaca, buku ilmu pengetahuan, koran, majalah, pengetahuan bisa bertambah. Wawasan menjadi luas. Untuk mengetahui perbedaan antar negara tidak mesti keliling dunia. Asal rajin membaca, di buku sudah ada semuanya.
“Guru pandai sehari lebih dulu,” ungkap Gulwadi Ilis guru SMPN 4 Sungai Ambawang.
Karena pengetahuan dapat diperoleh dari membaca buku, baik referensi maupun non referensi.
Menurutnya jika ingin tahu tentang semua ilmu harus belajar, terlebih dengan rajin membaca.
Tantowi Yahya dalam Talk Show pengembangan minat baca Nasional di Pontianak Convention Center (PCC), Minggu (13/5) lalu memberikan apresiasi tentang membaca.
Menurutnya orang sukses berkat kebiasaan membaca. Bahkan di Eropa atau Amerika begitu terkenal pendapat, “Many a great man start a newspaper boy.” (Banyak orang-orang besar yang bermula dari dagang koran).
Tantowi yang terkenal sebagai pemandu kuis Who Wants To Be Millionaire. Berpendapat, hanya dua orang yang mampu menembus bonus Rp 500 juta.
“Satu seorang pengasuh pondok pesantren dan satu orang lagi seorang loper koran,” terangnya.
Dijelaskan orang yang memiliki gelar dan titel tinggi justru ‘memble’ ketika berlaga di kuis yang mengandalkan pengetahuan.
Kepala Sekolah SMA Santo Paulus Yusepha, dalam ultah sekolah, mengkritisi situasi dan kondisi Perpustakaan sekolah yang jarang dikunjungi siswa. Perpustakaan itu bisa menampung 70 pembaca. Namun pengunjungnya sangat kurang.
“Seandainya pun ada bisa dihitung dengan jari,” ungkap Yusepha dengan jujur.
Agar siswa bisa bersemangat datang ke SMA Santo Paulus Pontianak. Pihak sekolah juga sudah mengadakan hot spot internet yang bisa di akses di areal perpustakaan.
“Tetapi baru beberapa siswa saja yang menggunakannya,” tambah Yusepha.
Menurut Bruder Gerardus, MTB, persoalan yang sama hampir sama dialami sekolah-sekolah.
“Sekarang kita mempunyai tanggung jawab untuk membangkitkan semuanya,” ungkapnya.
Senin, 30 Juli 2007
SMA Talino Sungai Ambawang
Hiburan dan Api Unggun Tutup MOS SMAK Talino Sungai Ambawang
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) Sekolah Menengah Atas Khatolik (SMAK) Talino Sungai Ambawang ingin memberikan kesan tersendiri dalam penutupan MOS, Jumat (20/7) dengan merangkai acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada penutupan MOS kali ini mereka menggelar acara hiburan siswa hasil kolaborasi alumnus serta siswa-siswa yang masih aktif belajar. Hiburannya yang disajikan berupa band sekolah, vokalis, musik serta kegiatan lainya.
Untuk menyadarkan siswa akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan, pihak panitia juga menggelar acara api unggun.
“Dalam acara api unggun yang dilaksanakan tepat pukul 11.00 WIB ada acara renungan,” ungkap Plt Kepala SMAK Talino, Kanisius Mando, kepada wartawan Borneo Tribune, Sabtu (21/7).
Menurut Kanisius demikian sapaan akrabnya, kegiatan itu sengaja digelar untuk memberikan warna lain khususnya bagi siswa-siswi yang baru masuk di SMAK Talino. Sebab untuk menempuh pendidikan agar hasilnya baik, dibutuhkan pemahaman khusus siswa-siswi baru.
Karenanya dalam kegiatan tersebut panitia juga melibatkan siswa kelas 11 dan kelas 12. Dengan harapan ada hubungan baik antara senior dan junior di sekolah tersebut.
“Kita berharap nantinya 156 siswa kita mampu berkompetisi dengan siswa lainnya di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Ditambahkan ketua panitia pelaksana MOS Alexander, sebelum penutupan MOS panitia telah memberikan materi yang sifatnya mendidik selama tiga hari yaitu Senin (16/7)- Rabu (18/7). Materi yang disampaikan meliputi upacara bendera, perkenalan siswa, pengenalan lagu-lagu, pengenalan sekolah, wawasan wiatamandala, tata krama, hubungan siswa dengan masyarakat, cara belajar yang efektip, peran siswa terhadap sekolah, manfaat pendidikan bagi siswa, pembuatan laporan kegiatan oleh siswa.
“Semua materi itu melibatkan guru yang ada di sini,” terang Alxander.
Di antaranya, Yosida, Yani, Kanisius Mando, Linda, Alexander, Hendrikus, Yhasintus serta Fiter.
“Kita berharap agar MOS ini bisa meningkatkan kwalitas siswa dengan mengubah pola berpikir,” pintanya.
Jika di lihat dari sejarahnya, SMAK Talino lahir pada tahun 1985, memperoleh izin operasional pada tahun 1988. Tanggal 27 September 1990 memperluas statatus terdaftar dari direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ajaran 2007/ 2008 adalah angkatan ke 23. Alumni SMAK Talino banyak yang telah sukses meraih prestasi, baik menjadi Pator, suster, guru, Polisi, Tentara, PNS karyawan serta pebisnis. Dengan semboyan “ Belajar bukan hanya sekolah tapi untuk hidup’. Untuk itu lembaga SMAK Talino tetap berjuang mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan tekbnologi untuk pengembangan masa depan.
SMAK Talino mempunyai visi berdasarkan iman dan semangat Kristiani serta menjadikan Pancasila sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegera, SMAK Talini hendak hendak meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) pedasaan melalui pendidikan formal sehingga mereka mampu berpikir kristis dan positif, kreatif dan inovatif serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahe Esa dan bersikap demokratis berdasarkan Pancasila.
Sedangkan misinya adalah; mewujudkan peserta didik berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman dan taqwa. Meningkatkan profesionalisme dan keteladanan terhadap semua pelaku pendidikan. Mempelopori reformasi di bidang ke pendidikan, membentuk insan akademisi yang cinta ilmu pengetahuan, lingkungan dan kebudayaan. Meningkatkan keterampilan akademis dan prestasi ekstrakurikuler dan menumbuhkan kreatifitas seni tari, musik dan seni suara.
Untuk menunjang semua kegiatan SMAK Talino memiliki sarana pendukung. Untuk olah raga ada lapangan Badminton, lapangan bola volly, tenis meja, lapangan sepak bola, sarana atletik lainnya. Sementara untuk fasilitas praktik komputer SMK Talino memiliki 20 unit komputer yang difasilitasi genset berkekuatan 10.000 KV dan untuk musik dan band sekolah.
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) Sekolah Menengah Atas Khatolik (SMAK) Talino Sungai Ambawang ingin memberikan kesan tersendiri dalam penutupan MOS, Jumat (20/7) dengan merangkai acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada penutupan MOS kali ini mereka menggelar acara hiburan siswa hasil kolaborasi alumnus serta siswa-siswa yang masih aktif belajar. Hiburannya yang disajikan berupa band sekolah, vokalis, musik serta kegiatan lainya.
Untuk menyadarkan siswa akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan, pihak panitia juga menggelar acara api unggun.
“Dalam acara api unggun yang dilaksanakan tepat pukul 11.00 WIB ada acara renungan,” ungkap Plt Kepala SMAK Talino, Kanisius Mando, kepada wartawan Borneo Tribune, Sabtu (21/7).
Menurut Kanisius demikian sapaan akrabnya, kegiatan itu sengaja digelar untuk memberikan warna lain khususnya bagi siswa-siswi yang baru masuk di SMAK Talino. Sebab untuk menempuh pendidikan agar hasilnya baik, dibutuhkan pemahaman khusus siswa-siswi baru.
Karenanya dalam kegiatan tersebut panitia juga melibatkan siswa kelas 11 dan kelas 12. Dengan harapan ada hubungan baik antara senior dan junior di sekolah tersebut.
“Kita berharap nantinya 156 siswa kita mampu berkompetisi dengan siswa lainnya di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Ditambahkan ketua panitia pelaksana MOS Alexander, sebelum penutupan MOS panitia telah memberikan materi yang sifatnya mendidik selama tiga hari yaitu Senin (16/7)- Rabu (18/7). Materi yang disampaikan meliputi upacara bendera, perkenalan siswa, pengenalan lagu-lagu, pengenalan sekolah, wawasan wiatamandala, tata krama, hubungan siswa dengan masyarakat, cara belajar yang efektip, peran siswa terhadap sekolah, manfaat pendidikan bagi siswa, pembuatan laporan kegiatan oleh siswa.
“Semua materi itu melibatkan guru yang ada di sini,” terang Alxander.
Di antaranya, Yosida, Yani, Kanisius Mando, Linda, Alexander, Hendrikus, Yhasintus serta Fiter.
“Kita berharap agar MOS ini bisa meningkatkan kwalitas siswa dengan mengubah pola berpikir,” pintanya.
Jika di lihat dari sejarahnya, SMAK Talino lahir pada tahun 1985, memperoleh izin operasional pada tahun 1988. Tanggal 27 September 1990 memperluas statatus terdaftar dari direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ajaran 2007/ 2008 adalah angkatan ke 23. Alumni SMAK Talino banyak yang telah sukses meraih prestasi, baik menjadi Pator, suster, guru, Polisi, Tentara, PNS karyawan serta pebisnis. Dengan semboyan “ Belajar bukan hanya sekolah tapi untuk hidup’. Untuk itu lembaga SMAK Talino tetap berjuang mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan tekbnologi untuk pengembangan masa depan.
SMAK Talino mempunyai visi berdasarkan iman dan semangat Kristiani serta menjadikan Pancasila sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegera, SMAK Talini hendak hendak meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) pedasaan melalui pendidikan formal sehingga mereka mampu berpikir kristis dan positif, kreatif dan inovatif serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahe Esa dan bersikap demokratis berdasarkan Pancasila.
Sedangkan misinya adalah; mewujudkan peserta didik berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman dan taqwa. Meningkatkan profesionalisme dan keteladanan terhadap semua pelaku pendidikan. Mempelopori reformasi di bidang ke pendidikan, membentuk insan akademisi yang cinta ilmu pengetahuan, lingkungan dan kebudayaan. Meningkatkan keterampilan akademis dan prestasi ekstrakurikuler dan menumbuhkan kreatifitas seni tari, musik dan seni suara.
Untuk menunjang semua kegiatan SMAK Talino memiliki sarana pendukung. Untuk olah raga ada lapangan Badminton, lapangan bola volly, tenis meja, lapangan sepak bola, sarana atletik lainnya. Sementara untuk fasilitas praktik komputer SMK Talino memiliki 20 unit komputer yang difasilitasi genset berkekuatan 10.000 KV dan untuk musik dan band sekolah.
Langganan:
Postingan (Atom)