Briyan Anak Brilian yang Fenomenal
Herkulanus Agus
Kebahagiaan sedang menerpa keluarga besar SD Suster dan sanggar kreatif Khatulistiwa Children Fun Art Khatulistiwa. Anak asuhnya Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD mengukir sejarah fenomenal internasional.
“Keberhasilan anak-anak KHACHIFA tidak diperoleh dengan cepat dan mudah, mereka sudah cukup lama berlatih dan bekerja keras untuk menghasilkan gambar yang bagus,” ungkap tim kreatif Khatulistiwa Children Fun Art (KHACHIFA) Ary Pudyanti yang didampingi Manejernya Eva Dolorosa, Sabtu (22/9) kemarin.
Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD Swasta Suster Pontianak adalah contoh siswa yang berhasil sejagad. Ia yang brilian mendapat juara 1 lomba desain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tema "We Can End Poverty" untuk peringatan dekade pertama hari internasional "Education for Poverty". Prestasinya membuat orang terpana. Karena keberhasilannya di dalam menyisihkan ribuan peserta di tingkat "International Children Art Competition" usia 6-15 tahun dari seluruh dunia.
“Briyan adalah salah satu binaan yang mendapat predikat terbaik dunia,” terang Ari.
Bagaimana trik KHACHIFA membuat siswa-siswinya berhasil? Menurut Ari, pola pembinaan yang dilakukan dalam lembaganya menggunakan pola diskusi. Siswa dilatih untuk mendengarkan dan mengungkapkan kelebihan yang mereka pikirkan. Pola ini sebenarnya sangat sederhana. Hampir sama dengan pembinaan orang dewasa. Hanya saja di Kalbar pelaksanaannya masih terbatas. Dengan pola keterbukaan ini mengalir diskusi yang dibicarakan secara bersama-sama. Misalnya desain Bryan yang mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas ukuran A4. Dalam desain tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka.
Pola binaan ini juga diberikan kepada siswa-siswi lainnya yang berjumlah 30 orang.
“Pola seperti ini sebenarnya yang ingin kita terapkan,” terang Ari.
KHACHIFA merupakan sebuah kelompok belajar yang diasuh Ibu Ary Widhiasmoro. Sebuah kelompk belajar di mana anak-anak belajar dalam suasana kekeluargaan yang menyenangkan.
Karena prestasi tersebut Bryan diundang PBB ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat bertepatan saat peringatan hari internasional "Education for Poverty" pada 17 Oktober mendatang.
Namun hingga kini pihak KHACIFA belum mendapat kepastian dari Pemerintah. Karena di dalam MoU, keberangkatan pemenang sepenuhnya ditanggung negara. “Kita masih menunggu kepastiannya,” papar mereka.
Di samping Briyan terdapat puluhan anak binaan KHACIFA yang berhasil. Yaitu dalam Toyota Dream Car Art Contest di Jepang dengan the Third Winner. Mereka adalah Aliyarosa Taqwaaariva, SD Al Azhar kelas 4. Risang Dewandaru Samudro SD Muhammadiyah 2 kelas 4. Iona Aveline Joy SD Karya Yosef kelas 3. Alfredo SD Karya Yosef kelas 3.
International Childrens Painting on the environment-UNEP, Tromso, Norway, Juara 4 tingkat dunia Wellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Special Winner Save the sea word Bellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Finalis se-Asia Fasifik Aulia Syaffitri dari SMPN 3 Pontianak kelas 8. Alyyarosa Taqwaariva dari SD Al Azhar kelas 4. Wikan Widhiary Bagaskoro siswa SMPN 10 kelas 7. Shirleen Winona siswa SMA Santo Petrus Pontianak kelas 10. Aileen Aurelia siswa SD Karya Yosef kelas 3. Bryan Jevoncia siswa SD Suster kelas 2.
An art competition for children to design a un stamp on the thema “we can and poverty” Now York. Untuk winning satam design atas nama Bryan Jevoncia. Merit Certificates winners Alyrosa Taqwaariva, Stefanny Dian Sari, Wellinda Tjan, Rida Asananda. Untuk certtificates of recognition diraih Novella Permata Sari dan Risang Dewandaru Samudro. Selanjutnya International Atomic Energy Agency) Children’s Painting Compettition, di Viena Austria Alyarosa Taqwaariva siswa SD Al-Azhar kelas 4 keluar sebagai top word 12 finalist. □
Jumat, 28 September 2007
पेंदिदिकन
“Gejala Malas membaca”
Herkulanus Agus
Menulis dan membaca hampir tidak dapat dipisahkan, ada hubungan pertautan yang penting di antara keduanya. Untuk bisa menulis buku orang harus rajin membaca, terutama buku-buku referensi.
Sekarang ini banyak kalangan yang cemas dengan gejala-gejala “malas membaca”. Padahal lewat membaca, buku ilmu pengetahuan, koran, majalah, pengetahuan bisa bertambah. Wawasan menjadi luas. Untuk mengetahui perbedaan antar negara tidak mesti keliling dunia. Asal rajin membaca, di buku sudah ada semuanya.
“Guru pandai sehari lebih dulu,” ungkap Gulwadi Ilis guru SMPN 4 Sungai Ambawang.
Karena pengetahuan dapat diperoleh dari membaca buku, baik referensi maupun non referensi.
Menurutnya jika ingin tahu tentang semua ilmu harus belajar, terlebih dengan rajin membaca.
Tantowi Yahya dalam Talk Show pengembangan minat baca Nasional di Pontianak Convention Center (PCC), Minggu (13/5) lalu memberikan apresiasi tentang membaca.
Menurutnya orang sukses berkat kebiasaan membaca. Bahkan di Eropa atau Amerika begitu terkenal pendapat, “Many a great man start a newspaper boy.” (Banyak orang-orang besar yang bermula dari dagang koran).
Tantowi yang terkenal sebagai pemandu kuis Who Wants To Be Millionaire. Berpendapat, hanya dua orang yang mampu menembus bonus Rp 500 juta.
“Satu seorang pengasuh pondok pesantren dan satu orang lagi seorang loper koran,” terangnya.
Dijelaskan orang yang memiliki gelar dan titel tinggi justru ‘memble’ ketika berlaga di kuis yang mengandalkan pengetahuan.
Kepala Sekolah SMA Santo Paulus Yusepha, dalam ultah sekolah, mengkritisi situasi dan kondisi Perpustakaan sekolah yang jarang dikunjungi siswa. Perpustakaan itu bisa menampung 70 pembaca. Namun pengunjungnya sangat kurang.
“Seandainya pun ada bisa dihitung dengan jari,” ungkap Yusepha dengan jujur.
Agar siswa bisa bersemangat datang ke SMA Santo Paulus Pontianak. Pihak sekolah juga sudah mengadakan hot spot internet yang bisa di akses di areal perpustakaan.
“Tetapi baru beberapa siswa saja yang menggunakannya,” tambah Yusepha.
Menurut Bruder Gerardus, MTB, persoalan yang sama hampir sama dialami sekolah-sekolah.
“Sekarang kita mempunyai tanggung jawab untuk membangkitkan semuanya,” ungkapnya.
Herkulanus Agus
Menulis dan membaca hampir tidak dapat dipisahkan, ada hubungan pertautan yang penting di antara keduanya. Untuk bisa menulis buku orang harus rajin membaca, terutama buku-buku referensi.
Sekarang ini banyak kalangan yang cemas dengan gejala-gejala “malas membaca”. Padahal lewat membaca, buku ilmu pengetahuan, koran, majalah, pengetahuan bisa bertambah. Wawasan menjadi luas. Untuk mengetahui perbedaan antar negara tidak mesti keliling dunia. Asal rajin membaca, di buku sudah ada semuanya.
“Guru pandai sehari lebih dulu,” ungkap Gulwadi Ilis guru SMPN 4 Sungai Ambawang.
Karena pengetahuan dapat diperoleh dari membaca buku, baik referensi maupun non referensi.
Menurutnya jika ingin tahu tentang semua ilmu harus belajar, terlebih dengan rajin membaca.
Tantowi Yahya dalam Talk Show pengembangan minat baca Nasional di Pontianak Convention Center (PCC), Minggu (13/5) lalu memberikan apresiasi tentang membaca.
Menurutnya orang sukses berkat kebiasaan membaca. Bahkan di Eropa atau Amerika begitu terkenal pendapat, “Many a great man start a newspaper boy.” (Banyak orang-orang besar yang bermula dari dagang koran).
Tantowi yang terkenal sebagai pemandu kuis Who Wants To Be Millionaire. Berpendapat, hanya dua orang yang mampu menembus bonus Rp 500 juta.
“Satu seorang pengasuh pondok pesantren dan satu orang lagi seorang loper koran,” terangnya.
Dijelaskan orang yang memiliki gelar dan titel tinggi justru ‘memble’ ketika berlaga di kuis yang mengandalkan pengetahuan.
Kepala Sekolah SMA Santo Paulus Yusepha, dalam ultah sekolah, mengkritisi situasi dan kondisi Perpustakaan sekolah yang jarang dikunjungi siswa. Perpustakaan itu bisa menampung 70 pembaca. Namun pengunjungnya sangat kurang.
“Seandainya pun ada bisa dihitung dengan jari,” ungkap Yusepha dengan jujur.
Agar siswa bisa bersemangat datang ke SMA Santo Paulus Pontianak. Pihak sekolah juga sudah mengadakan hot spot internet yang bisa di akses di areal perpustakaan.
“Tetapi baru beberapa siswa saja yang menggunakannya,” tambah Yusepha.
Menurut Bruder Gerardus, MTB, persoalan yang sama hampir sama dialami sekolah-sekolah.
“Sekarang kita mempunyai tanggung jawab untuk membangkitkan semuanya,” ungkapnya.
Senin, 30 Juli 2007
SMA Talino Sungai Ambawang
Hiburan dan Api Unggun Tutup MOS SMAK Talino Sungai Ambawang
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) Sekolah Menengah Atas Khatolik (SMAK) Talino Sungai Ambawang ingin memberikan kesan tersendiri dalam penutupan MOS, Jumat (20/7) dengan merangkai acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada penutupan MOS kali ini mereka menggelar acara hiburan siswa hasil kolaborasi alumnus serta siswa-siswa yang masih aktif belajar. Hiburannya yang disajikan berupa band sekolah, vokalis, musik serta kegiatan lainya.
Untuk menyadarkan siswa akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan, pihak panitia juga menggelar acara api unggun.
“Dalam acara api unggun yang dilaksanakan tepat pukul 11.00 WIB ada acara renungan,” ungkap Plt Kepala SMAK Talino, Kanisius Mando, kepada wartawan Borneo Tribune, Sabtu (21/7).
Menurut Kanisius demikian sapaan akrabnya, kegiatan itu sengaja digelar untuk memberikan warna lain khususnya bagi siswa-siswi yang baru masuk di SMAK Talino. Sebab untuk menempuh pendidikan agar hasilnya baik, dibutuhkan pemahaman khusus siswa-siswi baru.
Karenanya dalam kegiatan tersebut panitia juga melibatkan siswa kelas 11 dan kelas 12. Dengan harapan ada hubungan baik antara senior dan junior di sekolah tersebut.
“Kita berharap nantinya 156 siswa kita mampu berkompetisi dengan siswa lainnya di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Ditambahkan ketua panitia pelaksana MOS Alexander, sebelum penutupan MOS panitia telah memberikan materi yang sifatnya mendidik selama tiga hari yaitu Senin (16/7)- Rabu (18/7). Materi yang disampaikan meliputi upacara bendera, perkenalan siswa, pengenalan lagu-lagu, pengenalan sekolah, wawasan wiatamandala, tata krama, hubungan siswa dengan masyarakat, cara belajar yang efektip, peran siswa terhadap sekolah, manfaat pendidikan bagi siswa, pembuatan laporan kegiatan oleh siswa.
“Semua materi itu melibatkan guru yang ada di sini,” terang Alxander.
Di antaranya, Yosida, Yani, Kanisius Mando, Linda, Alexander, Hendrikus, Yhasintus serta Fiter.
“Kita berharap agar MOS ini bisa meningkatkan kwalitas siswa dengan mengubah pola berpikir,” pintanya.
Jika di lihat dari sejarahnya, SMAK Talino lahir pada tahun 1985, memperoleh izin operasional pada tahun 1988. Tanggal 27 September 1990 memperluas statatus terdaftar dari direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ajaran 2007/ 2008 adalah angkatan ke 23. Alumni SMAK Talino banyak yang telah sukses meraih prestasi, baik menjadi Pator, suster, guru, Polisi, Tentara, PNS karyawan serta pebisnis. Dengan semboyan “ Belajar bukan hanya sekolah tapi untuk hidup’. Untuk itu lembaga SMAK Talino tetap berjuang mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan tekbnologi untuk pengembangan masa depan.
SMAK Talino mempunyai visi berdasarkan iman dan semangat Kristiani serta menjadikan Pancasila sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegera, SMAK Talini hendak hendak meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) pedasaan melalui pendidikan formal sehingga mereka mampu berpikir kristis dan positif, kreatif dan inovatif serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahe Esa dan bersikap demokratis berdasarkan Pancasila.
Sedangkan misinya adalah; mewujudkan peserta didik berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman dan taqwa. Meningkatkan profesionalisme dan keteladanan terhadap semua pelaku pendidikan. Mempelopori reformasi di bidang ke pendidikan, membentuk insan akademisi yang cinta ilmu pengetahuan, lingkungan dan kebudayaan. Meningkatkan keterampilan akademis dan prestasi ekstrakurikuler dan menumbuhkan kreatifitas seni tari, musik dan seni suara.
Untuk menunjang semua kegiatan SMAK Talino memiliki sarana pendukung. Untuk olah raga ada lapangan Badminton, lapangan bola volly, tenis meja, lapangan sepak bola, sarana atletik lainnya. Sementara untuk fasilitas praktik komputer SMK Talino memiliki 20 unit komputer yang difasilitasi genset berkekuatan 10.000 KV dan untuk musik dan band sekolah.
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) Sekolah Menengah Atas Khatolik (SMAK) Talino Sungai Ambawang ingin memberikan kesan tersendiri dalam penutupan MOS, Jumat (20/7) dengan merangkai acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada penutupan MOS kali ini mereka menggelar acara hiburan siswa hasil kolaborasi alumnus serta siswa-siswa yang masih aktif belajar. Hiburannya yang disajikan berupa band sekolah, vokalis, musik serta kegiatan lainya.
Untuk menyadarkan siswa akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan, pihak panitia juga menggelar acara api unggun.
“Dalam acara api unggun yang dilaksanakan tepat pukul 11.00 WIB ada acara renungan,” ungkap Plt Kepala SMAK Talino, Kanisius Mando, kepada wartawan Borneo Tribune, Sabtu (21/7).
Menurut Kanisius demikian sapaan akrabnya, kegiatan itu sengaja digelar untuk memberikan warna lain khususnya bagi siswa-siswi yang baru masuk di SMAK Talino. Sebab untuk menempuh pendidikan agar hasilnya baik, dibutuhkan pemahaman khusus siswa-siswi baru.
Karenanya dalam kegiatan tersebut panitia juga melibatkan siswa kelas 11 dan kelas 12. Dengan harapan ada hubungan baik antara senior dan junior di sekolah tersebut.
“Kita berharap nantinya 156 siswa kita mampu berkompetisi dengan siswa lainnya di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Ditambahkan ketua panitia pelaksana MOS Alexander, sebelum penutupan MOS panitia telah memberikan materi yang sifatnya mendidik selama tiga hari yaitu Senin (16/7)- Rabu (18/7). Materi yang disampaikan meliputi upacara bendera, perkenalan siswa, pengenalan lagu-lagu, pengenalan sekolah, wawasan wiatamandala, tata krama, hubungan siswa dengan masyarakat, cara belajar yang efektip, peran siswa terhadap sekolah, manfaat pendidikan bagi siswa, pembuatan laporan kegiatan oleh siswa.
“Semua materi itu melibatkan guru yang ada di sini,” terang Alxander.
Di antaranya, Yosida, Yani, Kanisius Mando, Linda, Alexander, Hendrikus, Yhasintus serta Fiter.
“Kita berharap agar MOS ini bisa meningkatkan kwalitas siswa dengan mengubah pola berpikir,” pintanya.
Jika di lihat dari sejarahnya, SMAK Talino lahir pada tahun 1985, memperoleh izin operasional pada tahun 1988. Tanggal 27 September 1990 memperluas statatus terdaftar dari direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun ajaran 2007/ 2008 adalah angkatan ke 23. Alumni SMAK Talino banyak yang telah sukses meraih prestasi, baik menjadi Pator, suster, guru, Polisi, Tentara, PNS karyawan serta pebisnis. Dengan semboyan “ Belajar bukan hanya sekolah tapi untuk hidup’. Untuk itu lembaga SMAK Talino tetap berjuang mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan tekbnologi untuk pengembangan masa depan.
SMAK Talino mempunyai visi berdasarkan iman dan semangat Kristiani serta menjadikan Pancasila sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegera, SMAK Talini hendak hendak meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) pedasaan melalui pendidikan formal sehingga mereka mampu berpikir kristis dan positif, kreatif dan inovatif serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahe Esa dan bersikap demokratis berdasarkan Pancasila.
Sedangkan misinya adalah; mewujudkan peserta didik berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman dan taqwa. Meningkatkan profesionalisme dan keteladanan terhadap semua pelaku pendidikan. Mempelopori reformasi di bidang ke pendidikan, membentuk insan akademisi yang cinta ilmu pengetahuan, lingkungan dan kebudayaan. Meningkatkan keterampilan akademis dan prestasi ekstrakurikuler dan menumbuhkan kreatifitas seni tari, musik dan seni suara.
Untuk menunjang semua kegiatan SMAK Talino memiliki sarana pendukung. Untuk olah raga ada lapangan Badminton, lapangan bola volly, tenis meja, lapangan sepak bola, sarana atletik lainnya. Sementara untuk fasilitas praktik komputer SMK Talino memiliki 20 unit komputer yang difasilitasi genset berkekuatan 10.000 KV dan untuk musik dan band sekolah.
Jumat, 22 Juni 2007
Guru SDN 32 Berprestasi
Guru Berprestasi SDN 32 Pontianak Selatan Dapat Penghargaan
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
“Trima kasihku ku ucapkan pada guruku yang iklas.”
Demikian penggalan hymne guru yang didendangkan 78 siswa kelas VI SDN 32 Kecamatan Pontianak Selatan saat acara perpisahan di Gedung Anex Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu (13/6) kemarin.
Suasana yang sebelumnya riuh, berganti hening. Hanya alunan lagu untuk guru itu yang mengalun diiringi musik dan deklamasi.
Para guru dan orang tua, serta undangan hanyut dalam suasana, menyimak suara para siswa yang menyanyikannya di atas pentas.
Selain vokal grup hymne guru, para siswa juga menyajikan sejumlah acara hiburan yang dikemas menarik, diantaranaya solis, puisi dan acara lainya. Ariffudin yang pernah meraih juara III dalam lomba membaca puisi guru SD dan MI se Kota Pontianak juga menunjukkan kepiawaaiannya dalam olah kata.
“Kita ingin menunjukkan kebersamaan di sekolah ini, sehingga pada pentas seni yang disajikan banyak mata acara disampaikan,” ungkap Kepala SDN 32 Pontianak Selatan Ardimansyah, S.Pd, A,Ma, di sele-sela acara.
Ardimansyah ingin menunjukkan adanya kolobarasi yang baik antara guru dan murid SDN 32 Pontianak Selatan dalam mengisi acara perpisahan. Karena mulai dari persiapan, latihan hingga pementasan melibatkan para guru pembina dan para siswa yang hadir. Acara ini tidak kalah meriah dengan acara perpisahan yang dilaksanakan sekolah lain di Pontianak.
Untuk meningkatkan kinerja para guru, tata usaha dan penjaga sekolah, Kepala SDN 32 Pontianak memberikan penghargaan bagi sepuluh pengabdi terbaik yang dikategorikan dalam beberapa item. Yaitu kategori pengelolaan administrasi dan Manajemen kelas atas Nama Usman MHZ, A.Ma guru kelas V B. Pada bidang Media pembelajaran Wirdani, A.Ma, guru kelas II c, Kinerja Guru Neti Andriani, A, Ma, guru kelas I B, Pembinaan ekstrakulikuler kesiswaan Iskandar, A,Ma, guru mata pelajaran pendidikan Jasmani dan olah raga kesehatan, Arifuddin, A.Ma, guru mata pelejaran agama Islam, Pembinaan siswa khusus kelas enam, Dra, Hj, Jauhariah guru kelas VI A, Suherti, S,Pd, guru kelas VI B, ketatausahaan. Ratna Suri, pembantu pimpinan atau staf tata usaha, penjaga sekolah Semiharjo.Secara k
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
“Trima kasihku ku ucapkan pada guruku yang iklas.”
Demikian penggalan hymne guru yang didendangkan 78 siswa kelas VI SDN 32 Kecamatan Pontianak Selatan saat acara perpisahan di Gedung Anex Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu (13/6) kemarin.
Suasana yang sebelumnya riuh, berganti hening. Hanya alunan lagu untuk guru itu yang mengalun diiringi musik dan deklamasi.
Para guru dan orang tua, serta undangan hanyut dalam suasana, menyimak suara para siswa yang menyanyikannya di atas pentas.
Selain vokal grup hymne guru, para siswa juga menyajikan sejumlah acara hiburan yang dikemas menarik, diantaranaya solis, puisi dan acara lainya. Ariffudin yang pernah meraih juara III dalam lomba membaca puisi guru SD dan MI se Kota Pontianak juga menunjukkan kepiawaaiannya dalam olah kata.
“Kita ingin menunjukkan kebersamaan di sekolah ini, sehingga pada pentas seni yang disajikan banyak mata acara disampaikan,” ungkap Kepala SDN 32 Pontianak Selatan Ardimansyah, S.Pd, A,Ma, di sele-sela acara.
Ardimansyah ingin menunjukkan adanya kolobarasi yang baik antara guru dan murid SDN 32 Pontianak Selatan dalam mengisi acara perpisahan. Karena mulai dari persiapan, latihan hingga pementasan melibatkan para guru pembina dan para siswa yang hadir. Acara ini tidak kalah meriah dengan acara perpisahan yang dilaksanakan sekolah lain di Pontianak.
Untuk meningkatkan kinerja para guru, tata usaha dan penjaga sekolah, Kepala SDN 32 Pontianak memberikan penghargaan bagi sepuluh pengabdi terbaik yang dikategorikan dalam beberapa item. Yaitu kategori pengelolaan administrasi dan Manajemen kelas atas Nama Usman MHZ, A.Ma guru kelas V B. Pada bidang Media pembelajaran Wirdani, A.Ma, guru kelas II c, Kinerja Guru Neti Andriani, A, Ma, guru kelas I B, Pembinaan ekstrakulikuler kesiswaan Iskandar, A,Ma, guru mata pelajaran pendidikan Jasmani dan olah raga kesehatan, Arifuddin, A.Ma, guru mata pelejaran agama Islam, Pembinaan siswa khusus kelas enam, Dra, Hj, Jauhariah guru kelas VI A, Suherti, S,Pd, guru kelas VI B, ketatausahaan. Ratna Suri, pembantu pimpinan atau staf tata usaha, penjaga sekolah Semiharjo.Secara k
Kreatifitas MTSN I Pontianak Pada Perpisahan
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Tingkat kreatifitas Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTS) I Pontianak cukup tinggi, dibuktikan dengan beragamnya atraksi seni dalam acara perpisahan yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Rabu (13/6) kemarin.
Drama bawang merah dan bawang putih yang dibawakan dalam bahasa Inggris, sempat mengundang decak kagum para siswa dan undangan. Tepuk tangan membahana memecah sudut-sudut ruangan hingga terdengar keluar gedung. Membuat siswa yang membacakan prolog lebih bersemangat. Adegan Drama yang ditampilkan itu, memang tidak menghabiskan waktu panjang seperti sinetron bersambung yang ditayangkan di Televisi Nasional. Tetapi mereka ingin menyampaikan kesan bahwa seorang anak yang berhati mulia dan rendah hati patut menjadi suri tauladan. Sehingga sebagai siswa bukan hanya kecantikan saja yang menjadi kebanggaan. Tetapi kebaikan hati jauh lebih penting sebagai penghias diri.
Ketua panitia pelaksana kegiatan MTSN I Pontianak Usman, S, pd, menyampaikan bahwa kegiatan siswa didalam perpisahan tersebut adalah salah satu bentuk kreatifitas ekstrakulikuler yang selama ini dilaksanakan di Sekolah.
Kegiatan seni lainya yang ditampilkan ialah paduan suara, band kelas, drama, dancing dan vokal grup. Kebolehan mereka tidak kalah, sebab sepertinya sebelum tampil para siswa dilatih secara khusus di sekolah.
“Di sekolah ini kita melihat kegiatan ekstra sama pentingnya dengan kegiatan intra,” kata Usman.
Untuk itu pihak sekolah selalu memberikan pembinaan dalam kegiatan ekstra yang bernaung di bawah bendera Organisasi Intra Sekolah (Osis), karena itu tidak jarang sekolah tersebut bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lainya yang ada di Kota Pontianak. Misalnya pernah mendapatkan juara 2 untuk kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang dilaksanakan oleh SMA Taruna Bumi Khatulistiwa (TBK) akhir Mei lalu. Selanjutnya kegiatan extra Patroli Kemanan Sekolah (PKS), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pramuka dan cerdas cermat.
“Yang jelas kami ingin MTS I ini berkibar bersama sekolah-sekolah lainya dalam hal prestasi,” terang Usman.
Ditambahkan Usman, perpisahan itu merupakan ajang promosi prestasi MTSN I Pontianak kepada masyarakat Kota Pontianak. Sebab selama ini MTSN I Pontianak mempunyai bobot dan bebet yang baik, hanya saja tidak semua publik mengetahuinya.
Secara keseluruhan MTSN I Pontianak, memiliki siswa sekitar 715 yang ditampung di 18 kelas.
“Karena sebagian gedung kita sedang diperbaiki, terpaksa ada siswa yang harus sekolah siang,” terangnya.
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Tingkat kreatifitas Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTS) I Pontianak cukup tinggi, dibuktikan dengan beragamnya atraksi seni dalam acara perpisahan yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Rabu (13/6) kemarin.
Drama bawang merah dan bawang putih yang dibawakan dalam bahasa Inggris, sempat mengundang decak kagum para siswa dan undangan. Tepuk tangan membahana memecah sudut-sudut ruangan hingga terdengar keluar gedung. Membuat siswa yang membacakan prolog lebih bersemangat. Adegan Drama yang ditampilkan itu, memang tidak menghabiskan waktu panjang seperti sinetron bersambung yang ditayangkan di Televisi Nasional. Tetapi mereka ingin menyampaikan kesan bahwa seorang anak yang berhati mulia dan rendah hati patut menjadi suri tauladan. Sehingga sebagai siswa bukan hanya kecantikan saja yang menjadi kebanggaan. Tetapi kebaikan hati jauh lebih penting sebagai penghias diri.
Ketua panitia pelaksana kegiatan MTSN I Pontianak Usman, S, pd, menyampaikan bahwa kegiatan siswa didalam perpisahan tersebut adalah salah satu bentuk kreatifitas ekstrakulikuler yang selama ini dilaksanakan di Sekolah.
Kegiatan seni lainya yang ditampilkan ialah paduan suara, band kelas, drama, dancing dan vokal grup. Kebolehan mereka tidak kalah, sebab sepertinya sebelum tampil para siswa dilatih secara khusus di sekolah.
“Di sekolah ini kita melihat kegiatan ekstra sama pentingnya dengan kegiatan intra,” kata Usman.
Untuk itu pihak sekolah selalu memberikan pembinaan dalam kegiatan ekstra yang bernaung di bawah bendera Organisasi Intra Sekolah (Osis), karena itu tidak jarang sekolah tersebut bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lainya yang ada di Kota Pontianak. Misalnya pernah mendapatkan juara 2 untuk kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang dilaksanakan oleh SMA Taruna Bumi Khatulistiwa (TBK) akhir Mei lalu. Selanjutnya kegiatan extra Patroli Kemanan Sekolah (PKS), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pramuka dan cerdas cermat.
“Yang jelas kami ingin MTS I ini berkibar bersama sekolah-sekolah lainya dalam hal prestasi,” terang Usman.
Ditambahkan Usman, perpisahan itu merupakan ajang promosi prestasi MTSN I Pontianak kepada masyarakat Kota Pontianak. Sebab selama ini MTSN I Pontianak mempunyai bobot dan bebet yang baik, hanya saja tidak semua publik mengetahuinya.
Secara keseluruhan MTSN I Pontianak, memiliki siswa sekitar 715 yang ditampung di 18 kelas.
“Karena sebagian gedung kita sedang diperbaiki, terpaksa ada siswa yang harus sekolah siang,” terangnya.
Pendidikan di Kalimantan Barat Tribune
Diknas Siapkan 11 Tutor untuk Lumbung Belajar
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Dinas Pendidikan Kalimantan Barat menyiapkan 11 orang tutor untuk mengajar di Lumbung Belajar (LB) di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Meski bukan bersatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), kabarnya honor mereka jauh lebih tinggi.
“Gajinya jauh lebih besar, terutama gaji pokoknya,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, Drs. Ngatman, ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/6) kemarin.
Ada beberapa keistimewaan yang diberikan kepada para totor yang berstatus tenaga kontrak itu, diantaranya fasilitas kendaraan roda dua dari pemerintah pusat.
Mereka akan mengajar anak-anak TKI yang tidak bisa menikmati pendidikan di Malaysia Timur itu. Mereka ditugaskan menjemput atau memberikan materi pembelajaran secara khusus kepada para calon siswa.
Sementara itu, untuk peresmian LB yang direncanakan pada awal Juni, waktunya diundur hingga 26 Juni mendatang dengan harapan persmian dapat dihadiri Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.
Sebelumnya Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olah Raga (Diklusepora) Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat Drs. Muhamad Ali, M.Si, mengungkapkan LB itu akan diresmikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, pihak pemprov juga akan mengundang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sanggau.
Pengelolaan LB diserahkan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Anak Bangsa yang berdomisili di Kecamatan Entikong. Sebab selama ini lembaga tersebut dianggap yang paling gencar mengajukan proposal kepada Provinsi untuk menangani anak-anak TKI diperbatasan.
“Bangunan LB itu, kira-kira berukuran 8 x 12 meter persegi, terletak di Kecamatan Entikong, tidak jauh dari LSM Anak Bangsa,” jelas Ali Daud.
Dana yang digunakan untuk operasional LB itu senilai Rp 200 juta. Dana tersebut bukan berasal dari Dinas Pendidikan, tetapi langsung ditransfer ke rekening LSM Anak Bangsa oleh Departemen Pendidikan Pusat. Dana tersebut digunakan untuk membayar honorarium tutor kunjung yang mengajar pada Lumbung belajar, pembelian kendaraan untuk tutor, dan penyelenggaraan paket B.
Dijelaskan Ali, Kedatangan TKI di Sarawak Malaysia Timur bisa dikategorikan dalam tiga bagian. Pertama TKI legal yang bekerjanya juga legal. Mereka ini bisa menikmati pendidikan dengan baik meski berada di Sarawak, Malaysia Timur. Kedua TKI legal tetapi bekerjnya illegal, karena paspor yang digunakan disana bukan untuk bekerja tetapi untuk berwisata, sehingga mereka sulit untuk mendapatkan pendidikan.
Golongan yang ketiga adalah TKI ilegal yang bekerja ilegal. Bagian ini jumlahnya yang paling banyak. Karenanya pemerintah mencoba mencarikan solusi untuk menangani masalah tersebut. Yaitu dengan mendirikan satu unit bangunan yang disebut lumbung belajar, kendaraannya dilengkapi kendaraan dua sebanyak dua buah. Kendaraan itu dimaksudkan untuk digunakan tutor kunjung yang tidak berstatus PNS.
Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Dinas Pendidikan Kalimantan Barat menyiapkan 11 orang tutor untuk mengajar di Lumbung Belajar (LB) di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Meski bukan bersatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), kabarnya honor mereka jauh lebih tinggi.
“Gajinya jauh lebih besar, terutama gaji pokoknya,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, Drs. Ngatman, ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/6) kemarin.
Ada beberapa keistimewaan yang diberikan kepada para totor yang berstatus tenaga kontrak itu, diantaranya fasilitas kendaraan roda dua dari pemerintah pusat.
Mereka akan mengajar anak-anak TKI yang tidak bisa menikmati pendidikan di Malaysia Timur itu. Mereka ditugaskan menjemput atau memberikan materi pembelajaran secara khusus kepada para calon siswa.
Sementara itu, untuk peresmian LB yang direncanakan pada awal Juni, waktunya diundur hingga 26 Juni mendatang dengan harapan persmian dapat dihadiri Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.
Sebelumnya Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olah Raga (Diklusepora) Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat Drs. Muhamad Ali, M.Si, mengungkapkan LB itu akan diresmikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat. Dalam kesempatan itu, pihak pemprov juga akan mengundang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sanggau.
Pengelolaan LB diserahkan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Anak Bangsa yang berdomisili di Kecamatan Entikong. Sebab selama ini lembaga tersebut dianggap yang paling gencar mengajukan proposal kepada Provinsi untuk menangani anak-anak TKI diperbatasan.
“Bangunan LB itu, kira-kira berukuran 8 x 12 meter persegi, terletak di Kecamatan Entikong, tidak jauh dari LSM Anak Bangsa,” jelas Ali Daud.
Dana yang digunakan untuk operasional LB itu senilai Rp 200 juta. Dana tersebut bukan berasal dari Dinas Pendidikan, tetapi langsung ditransfer ke rekening LSM Anak Bangsa oleh Departemen Pendidikan Pusat. Dana tersebut digunakan untuk membayar honorarium tutor kunjung yang mengajar pada Lumbung belajar, pembelian kendaraan untuk tutor, dan penyelenggaraan paket B.
Dijelaskan Ali, Kedatangan TKI di Sarawak Malaysia Timur bisa dikategorikan dalam tiga bagian. Pertama TKI legal yang bekerjanya juga legal. Mereka ini bisa menikmati pendidikan dengan baik meski berada di Sarawak, Malaysia Timur. Kedua TKI legal tetapi bekerjnya illegal, karena paspor yang digunakan disana bukan untuk bekerja tetapi untuk berwisata, sehingga mereka sulit untuk mendapatkan pendidikan.
Golongan yang ketiga adalah TKI ilegal yang bekerja ilegal. Bagian ini jumlahnya yang paling banyak. Karenanya pemerintah mencoba mencarikan solusi untuk menangani masalah tersebut. Yaitu dengan mendirikan satu unit bangunan yang disebut lumbung belajar, kendaraannya dilengkapi kendaraan dua sebanyak dua buah. Kendaraan itu dimaksudkan untuk digunakan tutor kunjung yang tidak berstatus PNS.
Langganan:
Postingan (Atom)